Dahsyatnya Menjadi Orangtua

dahsyatnya jadi orangtua

Dahsyatnya menjadi orangtua. Sebuah pekerjaan terdahsyat yang pernah ada di muka bumi. Bagaimana tidak dahsyat, sebab menjadi orangtua tidak ada sekolahnya, belajarnya setiap waktu, ilmunya bisa didapat di mana saja, ujiannya bisa kapan pun, selama puluhan tahun sampai ajal menjemput.

Dahsyatnya pengorbanan orangtua

Pengorbanan seorang ibu saat melahirkan, meregang nyawa mengantar sang buah hati ke dunia. Penantian selama 9 bulan dalam rahim terbayar lunas saat tangisan pertama sang buah hati pecah. Seketika rasa sakit menjelang kelahiran itu pun sirna. Rasa sakit melahirkan ibarat 70 tulang dipatahkan bersamaan. Hanya ibu yang sanggup menaggung rasa sakit tersebut.

Tak hanya sampai di situ pengorbanan seorang ibu. Menyusui sampai 2 tahun, mendidik penuh cinta kasih, dan mendoakan tak henti-henti siang maupun malam. Tidak sedikit pula ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, bekerja mencari nafkah selain tugas mendidik dan mengasuh anak.

Begitu juga dahsyatnya pengorbanan seorang ayah. Beliau mencari nafkah halal, menguras keringat supaya anggota keluarga bisa tercukupi semua kebutuhannya. Makan, pakaian, pendidikan, tempat tinggal, kendaraan, dan apapun yang bisa dia berikan.

Tak jarang ayah bekerja menjemput rezeki dari pagi buta sampai larut malam. Kadang hanya sempat mencium anak-anaknya yang sudah terlelap dalam tidur. Fajar menyingsing ayah sudah berangkat lagi. Semua peluh dan letih ayah terbayar saat melihat senyuman terukir di wajah para malaikat kecilnya.

Para orangtua mengorbankan banyak kesenangan mereka demi sang buah hati. Bahkan lebih dari itu, orangtua rela berikan apapun, harta benda, sampai yang paling berharga sekalipun yaitu nyawa. Semuanya untuk kebahagiaan si anak.

Ada satu hal tentang pengorbanan orangtua yang perlu diingat, orangtua tidak pernah mengungkit-ungkit semua kebaikan dan pengorbanan mereka untuk anak-anaknya. Semenjak dilahirkan hingga sekarang. Tidak akan pernah.

Sebelum menjadi orangtua

Jauh sebelum jadi orangtua, peran kita adalah seorang anak. Kita pernah merasakan, melihat,  kasih sayang orang tua pada kita semenjak kecil hingga dewasa. Belaian ayah dan ibu, sentuhan, pelukan kehangatan, senyuman, cucuran air mata mereka terbungkus dalam doa yang selalu dipanjatkan tiap malam.

Kehadiran ayah dan ibu saat kita susah atau senang, dukungan materi dan dorongan semangat mereka membuat kita menjadi seperti sekarang ini.  Sampai dewasa kasih sayang itu tidak pernah berkurang.

Cobalah pejamkan mata lalu perlahan ingat-ingat sosok ayah dan ibu. Bayangkan wajah mereka, hadirkan mereka dalam benak kita saat ini. Buka kembali memori-memori yang pernah kita lalui bersama ayah dan ibu. Apa yang dirasakan?!

Ada sebuncah perasaan hangat dalam dada, rindu berbalut bahagia mengenang kasih sayang mereka pada kita. Indahnya, nikmatnya, senangnya.

Suatu hari nanti, anak-anak kita akan merasakan apa yang saat ini kita rasakan. Tentang perasaan kehangatan, kasih sayang kita pada anak-anak akan bersama mereka sepanjang kehidupan mereka kelak.

Dahsyat ya, menjadi orang tua?!

Iya memang dahsyat, terbukti dalam Al Qur'an Allah SWT  banyak menurunkan ayat tentang adab terhadap orangtua. Salah satunya dalam surat Al-Isra (17) : 23-24 yang artinya,

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Dari ayat di atas sudah jelas kewajiban menghormati orangtua. Bahkan berkata 'Ah' saja dilarang karena termasuk dalam dosa besar. Alih-alih berkata tidak baik ucapkanlah kata-kata lemah lembut dan penuh kasih.

Jangan lupa orangtua adalah yang pertama kali mengajarkan anak-anaknya berkata-kata. Maka janganlah sekali-kali menyakiti mereka dengan perkataan yang menyakiti hati mereka.

Selain itu orangtua memiliki previlege istimewa dari Allah SWT, yaitu memiliki hak keridhoan. Ridho Allah ada pada ridho orangtua. Ada sebuah pepatah yang berbunyi keberhasilan seorang anak menjalani kehidupan bergantung pada ridho orangtua. Jika orangtua ridho, maka Allah SWT pun akan meridhoi si anak. Namun kebalikannya, jika orangtua tidak ridho maka tidak turun ridho Allah padanya.

Keistimewaan ini hanya ada pada orangtua.

Peran mulia orangtua

Menyadari betapa dahsyatnya menjadi orangtua, tentu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan melakukan yang terbaik sesuai peran mulia tersebut. Karena Allah telah berikan keistimewaan, pahala dan ganjaran berupa surga bagi orangtua yang ikhlas ridho menjalankan tugasnya serta bersabar menghadapi ujian dari anak-anaknya.

Saat lelah mendera, kesabaran menipis, kemarahan meledak, akibat ulah anak ingatlah mereka titipan (amanah) yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawabannya.

Bersabarlah.

Menjadi orangtua dahsyat memang perlu ilmu dan untuk itu perlu belajar jadi orangtua yang lebih baik. Caranya terus belajar dari kesalahan serta tidak mengulang kesalahan yang sama. Pelan-pelan, secara bertahap, yang penting hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin.

Ada 3 amal yang tidak akan pernah putus, yaitu:

  1. Shodaqoh dan amal jariyah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Doa anak shalih pada orang tua mereka (jika kelak orangtua sudah tiada)

Lagi-lagi dahsyatnya menjadi orangtua, setelah meninggal orangtua masih berhak mendapatkan pahala dari anak mereka melalui doa yang dipanjatkan bagi mereka. Masyaa Allah.

Untaian doa indah untuk orangtua yang sering kita lafalkan adalah balasan terbaik yang bisa kita hadiahkan bagi orangtua. Dalam doa tersebut berisi tentang permohonan ampun dan juga permintaan agar Allah SWT selalu melindungi dan menyayangi mereka.

"Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayani shagiiraa"

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku kecil

Akhir kata, tulisan ini dibuat sebagai pengingat untuk diri sendiri betapa dahsyatnya peran sebagai orangtua yang sedang dijalani. Menjadi orangtua adalah nikmat sekaligus karunia. Ujian dan cobaan harus dihadapi dengan kesabaran, keikhlasan dengan harapan Allah SWT memberi ridho-Nya agar kelak di akhirat dimasukkan bersama orang shalih dan masuk surga (insya Allah).

Semoga Allah SWT memudahkan jalan kita, para orangtua, mendidik dan mengasuh amanah-amanahNya. Aamiin YRA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *