Review Film Jumbo: Cerita dan Animasi yang Bikin Terpesona

Hai, assalamualaikuum. Walau sudah lama tayang di bioskop, aku mau review filmnya sekarang. Bukan apa-apa, kesannya masih melekat sampai saat ini lho. Jujur, sejak awal film Jumbo tayang aku nggak terlalu antusias. Bukan karena filmnya jelek, tapi aku merasa nggak punya waktu buat nonton. Tapi di sisi lain, "Kayaknya film ini sayang banget kalau sampai kelewatan." Berkali-kali si sulung, mengingatkan: "Ayo dong, nonton Jumbo, Mameh pasti suka!"

Sampai akhirnya, aku ke bioskop, duduk nonton, dan… boom—aku tahu, film ini bukan sekadar hiburan biasa.

Healing Kecil di Tengah Long Weekend

Saat itu tanggal 1 Juni 2025 akhirnya aku menonton Jumbo. Momen itu terjadi di tengah libur panjang akhir Mei. Kami sekeluarga jalan-jalan ke AEON BSD. Mungkin aku termasuk orang ke-10 juta yang menonton Jumbo (Hebat udah jadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia). Di dalam bioskop, hanya ada sekitar 7 orang. Tapi lucky me, masih sempat merasakan sensasinya di layar lebar.

Pro dan Kontra yang Bikin Penasaran

Sebelum menonton, aku sempat dapat berbagai komentar dari yang sudah nonton:

  • Ibuk Kesy bilang: “Jumbo tuh nggak jelas, ceritanya tentang penggusuran makam. Animasinya bagus, tapi masih mending Upin Ipin.”
  • Kakak Sera bilang: “Filmnya bagus, Mameh harus nonton! Don itu egois, tapi akhirnya jadi temenan. Pokoknya nonton deh!”
  • Ceceh Haura: “Don egois, dijauhi temannya, tapi bagus kok filmnya!”
  • Netizen: “Filmnya bikin nangis, sedih banget ceritanya!”
  • Another netizen: “Film ini sesat, ngajarin minta bantuan arwah. Bahaya buat anak-anak.”

Komentar terakhir itu sempat viral, sampai salah satu influencer menurunkan postingannya karena dianggap terlalu berlebihan. Dari situ aku makin penasaran.

Review Jujur Film Jumbo: Visual Juara, Cerita Mengaduk Emosi

Setelah akhirnya nonton, ini komentarku:

🎬 Visual film ini luar biasa! Seperti film animasi luar negeri. Animasinya halus, warna dan efeknya memanjakan mata banget.

🎧 Voice acting-nya keren! Ariel sebagai ayah Jumbo, BCL sebagai ibu Don, semuanya pas. Musik dan lagu yang dibawakan sampai merasuk ke kalbu.

📖 Cerita awal memang agak dipaksakan. Say it, penggusuran makam, menangkap arwah via gelombang radio? Gak masuk akal kan. Tapi keanehan itu semua tertutupi dengan visual dan adegan kejar-kejaran yang seru dan menegangkan sampai aku terbawa suasana deg-degannya.

💔 Latar belakang tokoh menyayat hati. Don, Mae, Nurman, dan Atta semuanya tumbuh tanpa orangtua lengkap. Don diasuh oma, Mae di keluarga adopsi, Nurman bersama kakek, Atta dengan kakaknya. Ini yang bikin aku menangis sesenggukan.

🎞️ Tribute untuk mama Ryan Adriandhy. Di akhir film, muncul tulisan “Mengenang memori baik Mama Ryan”. Aku tersentuh. Film ini adalah persembahan cinta dari Ryan untuk almarhum ibunya.

Pesan Moral Jumbo: Koneksi antar Manusia adalah Fitrah

Buatku pribadi, film ini menyentuh sisi humanis terdalam. Kita sebagai manusia lahir dengan fitrah untuk terhubung, saling membutuhkan dan memberi cinta. Keluarga adalah tempat pertama kita belajar itu semua.

Lewat Jumbo, aku merasakan betapa dalamnya rasa kehilangan ketika seseorang yang kita cintai pergi. Don, yang kehilangan ayah dan ibunya, kehilangan koneksi paling mendasar dalam hidupnya.

Orangtua Don bahkan sempat menulis buku sebagai ‘pesan terakhir’ untuk Don sebelum pergi bekerja ke luar kota. Buku itu menggambarkan ksatria di pulau gelembung—simbol bahwa Don akan selalu dilindungi. Adegan ini membuat aku menangis, karena membayangkan posisi orangtuanya Don yang berat meninggalkan anak semata wayang mereka.

Sebagai orangtua, pasti setidaknya pernah muncul pertanyaan dalam diri kita:

  • Bisakah anakku hidup tanpa aku?
  • Akan ke mana dia bergantung kalau aku tiada?
  • Siapa yang akan memeluknya saat dia ketakutan?

Perasaan dan pikiran khawatir orangtua itu sering menghantuiku sejak jadi ibu. Setiap kali melihat anak-anak tidur lelap, aku bayangkan gimana kalau hal buruk itu terjadi. Aaaah.. serem. Karena seperti ibu lainnya aku ingin selalu di dekat anak-anak memastikan mereka baik-baik saja.

Arwah yang Juga Rindu Orangtua

Lucunya, Meri sang arwah dalam film ini juga ingin bertemu orangtuanya. Sampai meminta tolong pada manusia untuk mencari arwah orangtuanya yang ditangkap sosok asing. Bisa terlihat bahkan sebagai arwah pun, rasa ingin “terkoneksi” itu tetap ada. Meskipun sudah jadi arwah cinta anak terhadap orangtua tak putus.

Sebab kehilangan orangtua adalah kehilangan rumah utama. Hilangnya rumah berarti tidak akan ada lagi pelukan, senyuman, atau kalimat menenangkan. Dan kehilangan yang paling menyiksa bukan hanya karena raga yang tak ada, tapi karena koneksi yang terputus.

Lagu “Selalu Ada di Nadimu”: Cinta yang Tak Pernah Hilang

Soundtrack utama Jumbo, “Selalu Ada di Nadimu”, jadi penyelamat emosional film ini. Lagu ini mengingatkan kita bahwa cinta dari orangtua tidak pernah benar-benar hilang. Mereka akan selalu ada—dalam denyut nadi, dalam napas, dalam doa.

Lagu ini seolah memberi pesan: “Tenanglah, meski raga tak ada, cintaku tetap ada.”

Penutup: Kita Akan Selalu Terhubung Lewat Cinta

Di akhir film, Don mencoba mendengar kembali suara ayah dan ibunya melalui radio rusak. Dan dia mendengarnya. “Jangan tinggalin Don ya Ayah, Ibu…” Dan mereka menjawab, “Kami tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Pesan terakhir ini sangat dalam—bahwa cinta yang sejati tidak akan pernah benar-benar pergi. Dalam Islam, kita percaya bahwa doa akan selalu menghubungkan kita dengan orangtua yang telah tiada.

Dan sebagai manusia, kita perlu terus menjaga koneksi—dengan sahabat, keluarga, dan orang-orang yang kita sayangi.

Sampai nanti kita semua berkumpul lagi di surga-Nya.

Karena Film Jumbo mengungkapkan hubungan dasar manusia untuk selalu terhubung maka ini sangat relate dengan kita semua. Makanya nggak heran Jumbo menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa. Itulah alasan-alasan kenapa Film Jumbo wajib ditonton untuk semua anggota keluarga.

Gimana menurut teman-teman tentang Film Jumbo? Apa yang kalian rasakan saat menontonnya boleh tulis di bawah. Terima kasih sudah mampir.

Wassalamualaikum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *