Hello 2026, Let’s start again

Assalamualaikum..

Empat bulan berlalu sejak berganti tahun baru. Kulewati tanggal pertama tahun 2026 tanpa perayaan, tanpa resolusi panjang juga tanpa ambisi. Aku nggak punya banyak janji hanya membawa diriku apa adanya.

Sepertinya blog selalu jadi media yang kurindukan untuk jadi ruang bercerita. Walau untuk menuliskan satu postingan saja membutuhkan waktu bulan sampai bertahun-tahun. Namun tetap saja aku selalu rindu menulis disini. Dan untuk setiap postingan yang jarang-jarang di blog ini kucurahkan dengan segenap jiwa-raga penuh cinta 🙂

Kalau boleh jujur, 2025 buatku adalah tahun yang penuh perjuangan. Bukan yang dramatis sampai kacau, tapi cukup melelahkan untuk membuatku sering berhenti dan bertanya, “Kenapa rasanya berat terus, ya?”

Tidak ada kejadian besar yang parah di tahun itu. Yang ada justru kumpulan hal kecil yang menumpuk. Capek yang datang pelan-pelan, lalu tinggal. Hari-hari di mana aku tetap bangun pagi, tetap menjalani peran, tetap berfungsi, tapi rasanya seperti menyeret kaki memaksa melangkah setiap hari.

Ada masa-masa aku merasa kosong. Bukan sedih yang meledak-ledak, tapi lelah yang sunyi. Lelah yang susah dijelaskan ke orang lain. Dan entah kenapa, aku lebih sering merasa energiku habis.

Aku banyak bertahan di tahun itu. Lebih sering bertahan daripada bertumbuh. Lebih sering menahan napas daripada berlari. Dan dulu, aku mengira itu kegagalan. Sekarang aku tahu, bertahan juga bentuk keberanian untuk diri sendiri.

Yang paling melelahkan dari 2025 bukan hanya keadaannya, tapi caraku memperlakukan diri sendiri. Aku keras. Terlalu keras malah. Aku menuntut diriku untuk tetap kuat, tetap positif, tetap kelihatan “oke”, padahal di dalam aku sedang butuh istirahat.

Aku sering merasa semua masalah orang di sekitarku adalah tanggung jawabku untuk membantu mereka. Apa karena jiwaku altruis atau ini innerchild ku?

Hampir semua hal aku pikirkan, menyita waktuku di sela-sela kegiatanku sebagai istri dan ibu. Belum lagi aku menghadapi urusan anak-anak.

Sampai akhirnya aku sadar, mungkin masalahnya bukan hidupku yang banyak masalah. Tapi aku membiarkan diriku menampung beban yang lebih daripada kemampuanku.

Hingga di titik aku mengalami kelelahan terus-menerus, overthinking dan juga perasaan tak berdaya. Keadaan ini yang tidak kunjung membaik membawaku pergi ke Psikiater. Selanjutnya aku didiagnosa mengalami depresi terselubung (hidden depression).

Depresi terselubung (masked depression / hidden depression) adalah kondisi seseorang mengalami gejala depresi yang tidak tampak seperti depresi pada umumnya. Ia seringkali 'tersembunyi' dibalik perilaku atau keluhan fisik lainnya - Chat GPT

Dunia Serasa Jeda Sejenak

Diagnosa 'hidden depression' dari dokter membawaku ke titik rendah di hidupku. Aku memang tidak baik-baik saja.

Untung, psikiaterku saat itu memberikan saran yang bisa kuterima. Diantaranya harus memprioritaskan diri sendiri, banyak berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan dan psikiaterku kerap kali memujiku dengan bilang, "Kamu hebat!"

Aku merasa sangat lega sudah berbicara pada psikiater dan dengan isi obrolannya seolah-olah dia memihakku. Bahwa aku sudah melakukan semua yang terbaik yang aku bisa. Dan itu sudah cukup.

Kemudian, aku melangkah keluar ruangan dengan perasaan lebih ringan. Aku harap nggak balik lagi ke sana. Cukup saja, aku akan menyelesaikan hidupku dengan lebih baik.

Kadang jawabannya sederhana: istirahat. Ya, istirahat dari hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Aku capek. Aku butuh jeda. Aku butuh lebih lembut pada diri sendiri.

Belajar Ikhlas

Aku mulai belajar menikmati kebahagiaan versi baru.
Bukan yang berisik, bukan yang besar-besaran. Tapi yang tenang. Yang cukup. Yang terasa aman.

Bahagia itu tenang, apa sih yang bisa membuat tenang? Ikhlas. Saat kita melibatkan Sang Maha Segalanya dalam setiap apa yang terjadi dalam hidup. Segala sesuatu sudah dalam pengaturanNya, sekecil apapun pasti sesuai kehendakNya.

Sebagai hamba, aku harus yakin bahwa menerima ketentuan takdirNya merupakan bagian dari Iman. Percaya bahwa apa yang terjadi akan memiliki pahala bagi dia yang ikhlas.

Ikhlas, pasrah menerima segala ketetapanNya.

Sehingga saat memasuki 2026, aku tidak membawa banyak target. Aku membawa niat. Niat untuk hidup lebih pasrah. Lebih pelan. Lebih tenang dan lebih ikhlas.

Aku ingin memilih tenang daripada berambisi.
Memilih cukup daripada menuntut.
Memilih ikhlas daripada mengeluh.

Aku ingin merawat diriku dengan cara yang selama ini sering kulewatkan. Mengizinkan diri lelah tanpa rasa bersalah. Mengizinkan diri berhenti tanpa merasa tertinggal. Mengizinkan diri berubah pikiran tanpa merasa gagal

Namun 2025 juga mengajarkanku untuk menyandarkan semua kegelisahanku pada Sang Maha Memiliki segalanya.

2025 pelan-pelan mengajarkanku satu hal penting: nggak semua masalah perlu aku pikirkan. Tidak semua masalah orang adalah tanggung jawabku. Ada fase-fase di mana kita hanya perlu membantu sesuai kemampuan kita saja.

Belajar berdamai dengan hidup yang tak sempurna ternyata bukan tentang sempurna. Bukan tentang memenuhi ekspektasi semua orang. Tapi tentang bilang tidak, bila kita rasa tidak mampu. Tentang mengurangi pikiran yang tidak perlu.

Tahun Baru, Hati Baru

Harapanku untuk 2026 sederhana. Aku ingin hadir di hidupku sendiri. Tidak setengah-setengah. Tidak sambil terus membandingkan. Aku ingin menjaga kesehatan mentalku sama seriusnya dengan tanggung jawab lain. Aku ingin lebih selektif pada hal-hal yang kuizinkan masuk ke hidupku.

Dan kalau nanti aku jatuh lagi, aku ingin jatuh dengan lebih ramah. Tanpa makian pada diri sendiri. Tanpa penghakiman yang berlebihan. Karena sekarang aku tahu, aku tidak rusak. Aku tidak terlambat. Aku hanya sedang belajar.

Terima kasih, 2025.
Untuk semua pelajaran yang datang tanpa permisi.
Untuk lelah yang memaksaku berhenti.
Untuk kesadaran bahwa hidup yang tak sempurna tetap layak dicintai.

Hello 2026.
Aku datang dengan lapang.
Membawa hati yang masih belajar tenang.
Dan niat sederhana: hidup lebih sadar, lebih pelan, dengan hati lebih senang.

Wassalamulaikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *