Review Buku Fatherman

Siapa sosok yang diidolakan anak-anak? Superman, Batman atau Spiderman? Hmm, jangan salah semua akan kalah kalau ketemu sama yang namanya Fatherman. Dialah superhero hebat yang siap jadi pahlawan anak-anak kapanpun dibutuhkan. Kehadirannya akan menjadikan anak-anak super hebat, super pintar, soleh solehah dan bahagia. Apa dan siapa Fatherman ada di sini: Review Buku Fatherman karya Ustadz Bendri Jaisyurrahman...

Buku Fatherman


Sebagai pakar parenting sekaligus penceramah, sosok Ustadz Bendri familiar di kalangan ibu-ibu Jabodetabek. Karena beliau sering mengisi kajian di majelis taklim, siaran di radio, atau ke sekolah-sekolah. Beruntung sebelum pandemi saya pernah ikut salah satu kajian beliau yang saya buat resumenya di bawah ini.

Kajian Tentang Bully ala Ustadz Bendri.

Selain itu dalam setiap ceramah Ustadz Bendri membahas materi yang menarik juga sesuai dengan kondisi dunia parenting masa kini. Makanya waktu satu atau dua jam nggak cukup ikut kajiannya. Selalu ingin mendengarkan cerita beliau, menyimak materi plus jawaban dari pertanyaan-pertanyaan orangtua.

Itulah salah satu alasan saya beli buku Fatherman karya Ustadz Bendri. Karena kepo sama cerita Ustadz, penasaran sama buku Fatherman. Hmm, "Apa lagi yang menarik di buku ini ya?"

Kisah Negeri Tanpa Ayah


Bermula dari keresahan Ustadz Bendri pada sosok ayah yang tidak hadir di keluarga. Pada umumnya ayah sejak pagi sudah mulai kerja sampai nanti malam hari, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi. Sementara urusan rumah tangga terutama mendidik anak dikembalikan ke ibu. Seolah-olah tugas ayah hanya dari kotak ke kotak lagi. Koran, Laptop, hape, dan lain-lain. Ada suaminya yang begini juga? 🙂

Kalau ini terus terjadi bakal ada ketimpangan peran mengasuh dan mendidik anak. Sosok ayah ada, tapi yang tidak ada kehadirannya di dalam kehidupan anak-anak. Padahal peran ayah sama besar dengan ibu dalam urusan mendidik buah hati tercinta.

Bukan tanpa efek, justru ketimpangan pengasuhan ini mengakibatkan bahaya sangat besar. Berbagai riset menunjukkan data anak yang kurang sosok ayah cenderung mengalami masalah kepribadian. Kasus-kasus kenakalan anak dan remaja rata-rata diakibatkan kurangnya peran ayah di kehidupan mereka.

Mirisnya lagi negara kita termasuk dalam rangking 4 negara teratas yang kehilangan sosok ayah atau istilahnya 'fatherless country.' Maka dari itu penyebab generasi muda di masa sekarang banyak yang rusak secara mental faktor terbesarnya dari tidak hadirnya peran ayah dalam kehidupan mereka. Naudzubillahi min dzaliik.

Kasihan si cantik dicuekin papanya.. Foto by: Canva

Fatherman Sang Pahlawan Keluarga

Untuk itulah Ustadz Bendri menuliskan buku 'Fatherman': Ayah tidak selalu hadir setiap saat tapi selalu ada di saat yang tepat. Memanggil para ayah agar kembali pada peran pentingnya dalam keluarga. Jadi Sang Pahlawan Keluarga yang sesungguhnya.

Dalam buku Fatherman hal yang paling disoroti yaitu tentang rusaknya sumber daya manusia khususnya di negeri kita. Berita kekacauan perilaku remaja makin tinggi saja kasusnya. Selain itu usia remaja yang melakukan kekerasan atau kriminal semakin muda lagi.

Kemudian para ahli pengasuhan mengatakan kerusakan perilaku remaja saat ini akibat keluarga gagal memproduksi anak-anak yang kuat dan tangguh. Terutama kekosongan peran ayah di keluarga. Anak-anak kekurangan kasih sayang dan bimbingan ayah maka dari itu muncul istilah Father Hunger yang artinya lapar ayah.

Sampai sini, sudah dapat poin pentingnya kalau anak pasti membutuhkan sosok ayah dalam mendidik sehingga tidak cukup dengan ibu saja.

Untuk menjadi Fatherman, seorang ayah mesti punya kualifikasi atau ciri-ciri yang menjadikan kekuatannya sempurna. Sehingga anak-anak nggak akan berpaling ke Superhero yang lain.

Menurut ayah 5 orang anak ini pahlawan yang bernama FATHERMAN memiliki kualifikasi atau 7 topi peran, diantaranya:
1. Konselor --> Meluangkan waktu untuk mendengar cerita dan keluh kesah anak tanpa menghakimi.


2. Guru --> Ayah harus jadi sumber ilmu pertama bagi anak, sampai anak tak butuh google 😛


3. Pengasuh --> Mengasuh dengan mengajak bermain anak fokus pada kebersamaan.


4. Motivator --> Selalu berikan dukungan ke anak kapanpun saat dibutuhkan.


5. Entertainer --> Berikan humor ke anak supaya nggak membosankan.


6. Distributor / Promotor --> Promosikan kelebihan/kebaikan anak pada orang lain.


7. Donor/ Donatur --> memfasilitasi kebutuhan materi anak-anak.

Bila ayah sudah memiliki 7 keahlian di atas maka sah disebut sebagai pahlawan keluarga sejati. InsyaAllah... Nah gimana caranya supaya ayah bisa memenuhi peran-peran tersebut Ustad Bendri menjelaskan di dalam buku Fatherman disajikan dengan ilustrasi menarik sebagai rangkuman bahasan.

Siap Menjadi Fatherman

Kira-kira gimana nih, siapkah jadi Fatherman? Untuk ibu-ibunya sudah siap mendampingi ayah menjadi pahlawan sesungguhnya? InsyaAllah siap ya.. Aamiin...

Namun seperti pada umumnya Superhero punya kelemahan, begitu pula Fatherman. Ustadz Bendri menuliskan musuh terbesar Fatherman yaitu HP dan gadget. Wah kalau yang ini rasanya musuh kita bersama, ya?! Hehehe. Hp dan gadget lebih seru dibandingkan mengajak main anak-anak kejar-kejaran atau mewarnai bersama, ya.. 😛

Memang nggak mudah menjadi ayah yang hanya memiliki waktu terbatas dengan anak-anak. Sehabis bekerja seharian pasti lelah, boro-boro mau main penginnya langsung tidur atau main HP. Nah kata Ustadz Bendri, ayo para ayah bisa kok menyiapkan waktu terbatas demi anak yang berkualitas.

Kuncinya ada di sini pada halaman 57 mencatat ada 3 kunci waktu penting kehadiran ayah:

  • Ayah hadir di waktu yang tepat
  • Hadir di saat yang pas
  • Ada saat di butuhkan

Adapun hadir di waktu yang tepat yaitu pada waktu anak sedih dan anak sakit. Ingatlah di kedua keadaan ini sebisa mungkin ayah hadir untuk menghibur, memberikan pelukan atau dekapan hangat ke anak. Lalu lakukan ketujuh topi peran ayah yang telah disebutkan di atas. Maka Ayah bakal jadi real superhero.

Fatherman menurut Mameh

Saya senang sekali begitu baca buku bersampul buku wajah Ustadz Bendri ini. Begitu selesai membacanya langsung terpikir pokoknya saya harus Review Buku Fatherman. Karena memang isinya penting buat para ayah. Jadi saya harap bisa buat bahan referensi Bebeh-nya anak-anak. Hehehe.

  • Kelebihan Buku Fatherman
    Buku ini buku yang enak dibaca, penuturan bahasa lucu dan renyah. Halaman buku ada 205 halaman lumayan tipis kalau buat saya bisa habis baca sekali duduk. Dilengkapi gambar-gambar lucu yang bikin nggak monoton.
  • Kekurangan Buku Fatherman
    Kalau dari segi isi yang daging banget ya buku ini banyak ilmu nya. Hanya sedikit masukan mungkin buat yang cari ilmu dari buku Fatherman harus bersabar karena materi bercanda yang banyak. Hehe, maaf ya Ustadz. Di buku lain moga banyakin serius nya lagi. Jujur ini buku serius banget lho. Maksud saya supaya para ayah nggak cuma dapat lucu-nya tapi mesti bisa masuk apa materi intinya. *peace*

Oh iya, Buku Fatherman ini sesuai untuk keluarga yang lengkap. Di sini tidak dibahas bagaimana peran ayah jika terjadi di keluarga yang berpisah. Mungkin Ustadz Bendri pernah membahasnya di kajian lain. Wallahu 'alam.

Kalau Teman-teman tertarik membaca buku lanjutan Fatherman cuz lanjut ke buku Fatherman Edisi 2 bisa didapatkan dalam bentuk PDF ada di web www.fatherman.id. Terakhir semoga ayah-ayah masa kini bisa makin cerdas mengelola waktu dan mengisi waktu dengan anak-anaknya. Supaya generasi ke depan makin hebat dan membanggakan. Aamiin...

Leave a Reply

Your email address will not be published.